Tuesday, June 11, 2013

Kemana Lumbung Padi Kita?

Seringkali kebijakan pemerintah kontradiktif dengan implementasi di lapangan.




Secara geografis, Indonesia terletak tepat di garis khatulistiwa sehingga memiliki iklim yang cocok untuk pertanian. Sebutan Zamrud Khatulistiwa, negeri agraris maritim, menggambarkan betapa kayanya potensi pertanian dan perikanan Indonesia. 

Luas daratan Indonesia mencapai 188,20 juta ha yang terdiri atas 148 juta lahan kering dan 40,20 ha lahan basah, dengan jenis tanah, iklim, fisiografi, bahan induk (vulkanik yang subur), dan elevasi yang beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2005), luas lahan pertanian Indonesia sekitar 70,20 juta ha, dan sebagian besar berupa lahan perkebunan(18,50 ha), tegalan 14,60 juta ha, lahan tidur 11,30 juta dan sawah 7,90 juta ha. (PR, 11 Juni 2013)

Hasil perkebunan Indonesia mendunia, seperti sawit yang menempatkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Bahkan pada 2011, Indonesia menguasai 47 persen minyak dunia, mengungguli Malysia yang hanya 39 persen. Selain itu, sampai saat ini Indonesia masih sebagai eksportir rempah-rempah di dunia.

Hal yang sangat disayangkan, perkembangan komoditas perkebunan yang demikian pesat tidak diiringi pembangunan lahan pertanian sebagai komoditas pangan sehingga perkembangannya tidak banyak mengalami perubahan. Sangat miris menyaksikan penurunan luas sawah atau ladang akibat konversi lahan. 

Harian Pikiran Rakyat (10 Juni 2013) menulis, salah satu lumbung padi di Jawa Barat, Kabupaten Cianjur, menjadi kabupaten dengan jumlah warga penerima program Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin). Dari 599.340 kepala keluarga di Cianjur, 211.066 di antaranya digolongkan ke dalam kelompok keluarga yang berhak menerima beras bantuan itu.

Potret ironi negeri agraris seperti ini semestinya tidak terjadi andai pemerintah berpihak kepada petani dan serius mengangkat harkat dan martabat kaum petani. Seringkali kebijakan pemerintah kontradiktif dengan implementasi di lapangan, seperti mudahnya hak kepemlikan atas lahan yang begitu menghamba pada kekuasaan dan modal. Ketahanan pangan hanya sebatas wacana dan retorika, berbagai produk yang sebenarnya dapat diproduksi sendiri di impor dari negara lain. Ironis! 

Ilustrasi : bisnis.news.viva.co.id

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.