Saturday, June 1, 2013

Kapan Warisan Utang Berakhir?

Membengkaknya anggaran subsidi BBM selalu diimbangi dengan membengkaknya utang.



Ketika rakyat Indonesia memilih Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden untuk yang ke dua kalinya, tentu saja disertai dengan segudang harapan, salah satu di antaranya kehidupan menjadi lebih sejahtera.

Kemudian waktu berjalan, dan setelah hampir sepuluh tahun harapan tersebut belum juga tercapai. Indikatornya adalah subsidi untuk rakyat miskin yang tidak pernah berkurang.

Tahun ini, sebagai konsekuensi kenaikan harga BBM, anggaran untuk subsidi kepada rakyat miskin melonjak menjadi Rp 193 triliun. Subsidi BBM ini jauh lebih besar dari anggaran untuk pendidikan. Masalahnya dari mana dana tambahan ini bersumber? 

Sangat miris sekali, bahwa ternyata membengkaknya anggaran subsidi BBM selalu diimbangi dengan membengkaknya utang. Sederhananya, pemerintah meminjam uang untuk kemudian digunakan untuk mendanai subsidi BBM. 

Sejarah telah mencatat perjalanan kepemimpinan kita silih berganti karena selalu disebabkan utang yang semakin membesar. Kekuasaan Soekarno yang kharismatik, tumbang karena utang luar negeri. Jargon untuk menumbangkannya, semangat amanat penderitaan rakyat yang sangat bertentangan dengan pola kehidupan para pejabat saat itu yang cenderung bermewah-mewah. Kemudian Soeharto, diturunkan dengan sebab yang tidak jauh berbeda. Rakyat melihat pemerintah korup dan meluapkan kekesalan dengan melakukan pembakaran terutama di sentra-sentra perdagangan Jakarta. 

Pengalaman buruk yang berulang tersebut apakah menjadi pelajaran berharga bagi kepemimpinan nasional yang muncul pasca kepemimpinan Soeharto? Sepertinya tidak. Rakyat masih melihat gaya kepemimpinan yang pamer dan mengutamakan kenyamanan. Banyak kebijakan yang menyakiti hati nurani rakyat, besarnya penghasilan yang diberikan kepada wakil rakyat tidak sebanding dengan hasil kerjanya. Malah yang terjadi, meski berpendapatan semakin besar, tetap saja tega memakan uang rakyat.

RAPBN 2013 dalam sidang DPR menyiratkan bahwa defisit akan membengkak mencapai Rp 80 triliun yang akan diakali menutupinya dengan mencari utang (baru) sebesar Rp 63,4 triliun. Akibatnya utang negara akan menjadi Rp 2.023,72 triliun. 

Itukah warisan pemerintahan SBY bagi pemerintahan mendatang? 

Ilustrasi : www.merdeka.com

BACA JUGA :
Sekolah BLUD Pengganti RSBI?
Apa Tujuan Regenerasi Politik?
Solusi Mengatasi Inflasi Akibat Kenaikan Harga BBM...
Kekuatan Uang Dalam Pilkada
Pemerintah Gamang Soal Kenaikan Harga Minyak
Mengenal Ragam dan Cara Kerja Alat Kontrasepsi
Bagaimana Menkeu Chatib Menjaga Stabilitas Fiskal?...

6 comments:

  1. kurang mendalam narasinya.

    ReplyDelete
  2. Memang negara kita negara yang tidak punya uang. Untuk anggaran tahun berjalan saja mengandalkan pendapatan tahun berjalan. Seharusnya dana cadangan minimal punya 3 kali APBN berjalan. Sudah begitu bocornya lumayan juga.

    ReplyDelete
  3. Adakah calon presiden kita mau makan singkong asal tidak ngutang, calon yg kriteria seperti inilah yg kita butuhkan saat ini dan masa datang!

    ReplyDelete
  4. Hutang akan terlunasi jika seluruh rakyat indonesia membayar 10ribu saja kepada negara tiap hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu aja presidennya...kan lunas...

      Delete
  5. gajinya para pemimpin saja di potong 25% / org, lumayan tu,, hehehe

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.