Saturday, November 26, 2016

HUT ke 7 IGI

PIDATO SAMBUTAN
KETUA UMUM PENGURUS PUSAT
IKATAN GURU INDONESIA
Dalam rangka HUT ke-7 IGI

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Presiden Republik Indonesia, Mendikbud, Gubernur, Walikota, Bupati dan seluruh Kepala Dinas Pendidikan yang kami hormati

Para pendiri, pembina dan pengurus Ikatan Guru Indonesia yang kami banggakan.

Para guru dari Aceh hingga Papua dari kota hingga pelosok yang kami banggakan, kami atas nama Pengurus Pusat dan Seluruh Jajaran Pengurus IGI se Indonesia mengucapkan SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2016 dan HARI ULANG TAHUN IKATAN GURU INDONESIA KE-7.

Dalam momentum HGN dan HUT IGI 2016 ini Ikatan Guru Indonesia mengambil tema "Pemurnian Organisasi Guru, Pemuliaan Guru Karena Kompetensi menuju Organisasi Profesi Guru Yang Sesungghnya"

Diinisiasi tahun 2000 oleh Ahmad Rizali, Satria Dharma, Dkk,  lalu dilembagakan dengan nama Klub Guru Indonesia dan dipimpin Ketua Sirikit Syah dan Sekjen Mohammad Ihsan menjadi cikal bakal Ikatan Guru Indonesia hingga kemudian tahun 2009 diresmikan badan hukumnya oleh kemenkumham republik Indonesia dengan Ketua Umum Satria Dharma  dan Sekjen Mohammad Ihsan serta Indra Djati Sidi  sebagai Ketua Dewan Pembina.

Ikatan Guru Indonesia lahir dari keresahan akan rendahnya kompetensi guru Indonesia dan ketiadaan wadah organisasi guru yang mengurusi kompetensi guru seperti dokter yang punya IDI, advokat yang punya IAI dan Peradi serta Notaris yang punya INI dan lainnya. IGI lahir karena kebutuhan mendesak akan peningkatan kompetensi guru yang kemudian atas perjuangan berbagai pihak termasuk para penggagas dan penggiat Klub Guru Indonesia lahirlah UU Guru dan Dosen yang disahkan pada tanggal 30 Desember 2005.

UU Guru dan Dosen ini memberikan beberapa pemaknaan yaitu :
1. Guru disahkan sebagai profesi.
2. Pemisahan secara utuh antara guru dan dosen.
3. Keharusan dibentuknya organisasi profesi guru.
4. Lahirnya Tunjangan Profesi Guru (TPG)
5. Perlindungan  guru meliputi perlindungan hukum, Perlindungan Profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
7. Pemerintah dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru.

Ikatan Guru Indonesia yang sejak lahirnya berkomitmen pada peningkatan kompetensi guru terasa begitu sejalan dengan UU Guru dan Dosen.

IGI memang lahir dari guru, dikelola oleh guru, dipimpin oleh guru. Secara administrasi IGI pun sudah terdaftar di Kemenkumham 2009  dan kembali diperbaharui kepengurusannya tahun 2016.

Sebagai cikal bakal organisasi profesi guru, IGI mengarahkan dirinya menjadi organisasi profesi sesuai tuntutan UU. IGI telah membentuk organsisi mata pelajaran dibawah IGI  yang disebut Ikatan Guru Mata Pelajaran (IGMP). Ikatan Guru Mata Pelajaran inilah yang akan menjadi ujung tombak pelatihan guru di seluruh Indonesia.

Seluruh pengurus Ikatan Guru Mata Pelajaran ini haruslah dipastikan guru yang mengajar di kelas bukan dosen, bukan birokrat apalagi sekedar pemerhati pendidikan. Seluruh pengurus IGMP di semua  tingkatan haruslah guru profesional, guru yang telah melewati semua persyaratan menjadi guru profesional. Inilah yang oleh IGI dimaksudkan sebagai PEMURNIAN ORGANISASI GURU.

Saat ini, IGI tengah membangun IGI-Samsung Smart Learning Centre di Makassar yang akan melatih guru mata pelajaran secara berkala dalam ribuan angkatan. Di semua daerah pun IGMP dituntut untuk secara rutin melakukan upaya pengembangan kompetensi guru. Dalam panduan orgnanisasi IGMP akan mengatur bahwa IGMP yang dalam enam bulan berturut-turut tidak melakukan upaya peningkatan kompetensi guru akan dibekukan. Pengurus Daerah diharapkan mampu mendorong, mengembangkan dan bersama-sama IGMP ini meningkatkan kompetensi guru Indonesia.

Menurut rencana, Kemendikbud akan melakukan verifikasi untuk menetapkan organisasi guru sebagai profesi. Untuk itu, Selaku Ketua Umum, saya meminta semua tingkatan IGI bersiap-siap menyambut kebijakan ini agar IGI nantinya resmi menjadi organisasi profesi guru.

Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2016 dan Selamat Hari Ulang Tahun Ke-7 Ikatan Guru Indonesia 26 November 2016.

Kita bersama mendorong DIKEMBALIKANNYA ORGANISASI PROFESI GURU KE GURU, KITA DORONG DAN TERUS MEMACU PENINGKATAN KOMPETENSI GURU INDONESIA.

Jakarta, 26 November 2016

Pengurus Pusat Ikatan Guru Indoensia
Periode 2016-2021

Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum





,

Tuesday, November 1, 2016

Indonesia Peradaban yang Akan Segera Punah?



Jarred Diamond, penulis yang memperoleh penghargaan Pulitzer dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.

Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.

Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib)


Pertama, untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?

Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.