Monday, January 16, 2017

BAGAIMANA MENGHINDARI BANK RIBA?



"Bagaimana Indonesia bisa maju masyarakatnya kalau perekonomian kita sangat Ribawi?", tanya seorang Nurdin dari Aceh Timur kepada Khairuddin Budiman saat menikmati Sanger di Vojoel Kupie Perlak.

Sejak tahun 1980 sampai sekarang bunga deposito Indonesia berkisar 6% s.d 8%. Melihat data Bank di Indonesia hanya BNI yang di bawah 6%, sisanya bermain di atas 6% semua. Di kawasan Asia, Indonesia masih tinggi dibanding Malaysia (4%), Filipina (1,7%), Taiwan (4,7%), Brunai Darussalam (0,3%). Bahkan negara Yahudi Israel tidak terlalu riba (1,1%), Jepang (0,1%), German (0%), US (0%). Kita hanya kalah riba dari negara-negara Afrika seperti Uganda (14%), Ghana (21%).

Akibatnya, masyarakat yang kaya jadi tidak produktif. Lebih memilih menyimpan uang di Bank dan tinggal menikmati bunganya per bulan. Atau jangan-jangan pemerintah di daerah juga demikian? Menyimpan dulu uang-uang dari pusat sebelum disalurkan ke pegawai? Jumlah yang tidak sedikit, coba hitung 6,4% kali berapa milyar untuk gaji pegawai yang terlambat di bulan Januari 2017 atau Tunjangan Sertifikasi Guru yang kadang juga tidak tepat waktu.

Masyarakat di Jepang, US, dan German, memilih bekerja daripada mengandalkan deposito uang di Bank. Dengan bunga sebesar 0,1% mereka mendapatkan apa? Akibatnya mereka jadi produktif, daripada berharap bunga deposito membeli ternak lalu pelihara, membeli lahan lalu kelola atau emas sebagai simpanan yang stabil.

"Kapan kita bisa seperti Saudi Arabia yang tidak punya deposito?", tanya Khairuddin Budiman memulai diskkusi dengan sebuah pertanyaan. Ada yang berpendapat karena uang mereka Dinar tidak tergantung dari sistem perbankan yang riba itu. 

Menurut Satria Dharma Saudi Arabia juga menggunakan sistem perbankan yang sama dengan dunia lain. Sila baca ini. https://www.export.gov/article.

Mata uang Saudi Arabia adalah Riyal bukan Dinar. Ada beberapa negara yang mata uangnya Dinar seperti Irak, Yordania, Kuwait. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dinar, Satria Dharma menegaskan.

"Salah satu transaksi non uang kertas di Saudi Arabia adalah Dinar, yang sistemnya sangat stabil karena bukan uang kertas yang kira-kira setiap 5 - 6 tahun harus didaur. Untuk sistem kurs, rupiah harus konversi dulu ke riyal biar bisa beli korma di Arab hehehe...", kata Khairuddin Budiman sambil terkekeh.

Diskusi seputar Bank Riba berlanjut terus....

2 comments:

  1. jadi lebih ringan dibuat mas heru dialog di fb pak khairudin budiman...

    ReplyDelete
  2. Terimakasih Bang Nurdin sudah menginspirasi dan mampir di blogg ini... Salam santun

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.