Thursday, February 9, 2017

Belajar Dari Sikap David Cameron



Tulisan ini merupakan rewrite dari sebuah Tajuk Rencana koran harian Pikiran Rakyat. Rewrite dipersembahkan kepada seluruh pemimpin di negeri ini agar tidak ketinggalan dan kehilangan tulisan tersebut di media cetak. Jadi, kapanpun dan dimanapun tulisan ini masih bisa dibaca berulang-ulang melalui gadget atau telpon android, tanpa takut diintip sedang belajar bagaimana menjadi seorang negarawan yang hebat. 

Seorang pemimpin yang bijak biasanya tidak segan-segan berkaca dari cermin para pemimpin terdahulu. Dari cermin seperti itu, siapapun boleh mengambil hikmah mana yang layak diteladani mana pula yang patut diapresiasi. Mata uang selalu menampilkan dua sisi yang berbeda tetapi justru perbedaan itulah yang membuat mata uang tersebut memiliki nilai.

Sebagai warga negara biasa kita sering dibikin heran oleh sikap beberapa elit pemimpin di negeri ini yang tidak bosan-bosannya menimbulkan kegaduhan. Mereka tampaknya sangat menikmati kultur media sosial yang sangat cepat memberikan reaksi, tidak peduli apakah itu bermanfaat atau tidak. Sering kali terjadi yang mereka ungkap ke publik itu tidak ada relevansinya dengan kepentingan rakyat banyak

Hal itu timbul mungkin didorong oleh hasrat berkuasa yang selalu menggebu-gebu. Para politisi sangat bernafsu menguasai apa saja yang bisa direbut, kalau gagal meraih kursi di parlemen mereka bersemangat untuk mendapat kedudukan di Dewan Perwakilan Daerah atau DPD. Mereka membutakan matanya meski tahu bahwa DPD adalah forumnya perwakilan daerah, bukan ranah kader parpol. Mata mereka sangat jeli menangkap peluang termasuk di lembaga Mahkamah Konstitusi atau MK. Bahkan porsi kepemimpinan di Majelis Ulama Indonesia atau MUI pun sedapat mungkin mereka kuasai. Padahal lembaga-lembaga seperti MK dan MUI hanya layak dipimpin oleh mereka yang sudah steril dari ambisi politik dan jabatan.

Kalau kita sedikit berusaha membaca kembali masa lalu, bangsa ini sebenarnya memiliki pengalaman yang sangat kaya. Hanya selama 10 tahun, setelah proklamasi kita berhasil menyelenggarakan pemilihan umum pertama yang kemudian hari banyak dipuji sebagai pemilu yang bersih dan demokratis. Akan tetapi hasil pemilu tersebut akhirnya mengambang akibat perdebatan yang berkepanjangan di konstituante.

Perdebatan tersebut memang sangat substansial karena menyangkut dasar negara. Namun karena sampai beberapa tahun tidak juga menghasilkan kesepakatan, akhirnya Presiden Soekarno dengan dukungan tentara mengambil jalan pintas memberlakukan Dekrit Presiden. Lewat dekrit tersebut Konstituante dibubarkan, artinya hasil pemilu yang banyak dipuji itu akhirnya mubah. Dengan berlakunya dekrit kekuasaan Soekarno menjadi sangat otoriter. Kita tahu bahwa akhir ceritanya Soekarno dijatuhkan oleh kekuatan rakyat.

Memasuki masa Orde Baru, legitimasi yang diberikan kepada Soeharto sangat besar bahkan ketika dengan alasan keamanan dan ketertiban mendorong pemerintahannya menjadi otoriter pun awalnya dapat diterima oleh rakyat. Akan tetapi karena kebijakan seperti itu akhirnya kebablasan di mana nilai-nilai demokrasi dimanipulasi sedemikian rupa ditambah lagi dengan korupsi yang merajalela kekuasaan Soeharto pun berakhir atas besarkan rakyat.

Mestinya dua peristiwa itu menjadi hikmah yang sangat berharga dengan semangat reformasi mestinya masalah-masalah kenegaraan dapat diselenggarakan dengan lebih baik dan benar-benar lebih demokratis.

Sayang semangat reformasi hanya dibaca secara mentah kebebasan berpendapat, dimanfaatkan secara berlebihan akibatnya ujaran kebencian bertebaran dimana-mana.

Sebagai warga negara biasa kita khawatir kalau hal itu dibiarkan terus berlanjut konflik horizontal akan makin tajam. Masalahnya ucapan para pemimpin sering begitu saja diterima sebagai pembenaran. Sebagian besar bangsa ini belum terbiasa bersikap kritis.

Semangat reformasi dan demokrasi yang menggebu-gebu tampaknya mesti agak direm. Tidak dalam bentuk pelarangan, karena hal itu akan menimbulkan konflik yang lebih parah lagi, melainkan dengan kesediaan untuk menahan diri. Para pemimpin di tingkat manapun berada, bidang apapun yang menjadi kewenangannya mungkin akan lebih baik kalau lebih sering bertemu, berbicara tanpa memberikannya kepada media, lalu bersepakat untuk sama-sama menyelamatkan bangsanya sendiri.

Para pemimpin di negeri ini tampaknya boleh belajar dari sikap David Cameron. Beberapa waktu silam secara pribadi dia tidak setuju kalau Inggris keluar dari Uni Eropa. Tetapi karena desakannya terus menguat, dia setuju diadakan referendum. Ketika terbukti hasil referendum bertentangan dengan pendapatnya, Dia segera melepaskan kedudukannya sebagai Perdana Menteri Inggris. Keputusan yang diambilnya tampak sangat sederhana, tetapi di balik itu adalah kesadaran tentang posisi seorang negarawan. Kehendak rakyat jauh lebih utama dan layak untuk dihargai dibandingkan dengan ambisi pribadinya sendiri. Dengan sikap seperti itu, David Cameron telah berhasil mengokohkan posisinya sebagai pemimpin yang layak untuk dikagumi dan diapresiasi.

Seorang pemimpin yang bijak biasanya tidak segan-segan berkaca dari cermin para pemimpin terdahulu. Dari cermin seperti itu, siapapun boleh mengambil hikmah mana yang layak diteladani mana pula yang patut diapresiasi. Mata uang selalu menampilkan dua sisi yang berbeda tetapi justru perbedaan itulah yang membuat mata uang tersebut memiliki arti.

Menerima kekalahan sama sulitnya dengan memberikan kesempatan kepada pihak lawan untuk menunjukkan kepemimpinannya. Tetapi memang seperti itulah kaidah berpolitik dan etika berkuasa yang dijabarkan dalam norma-norma demokrasi dengan kesadaran seperti itulah seseorang akan memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kadar kepemimpinannya. (Tajuk Rencana - Pikiran Rakyat,  4 Februari 2017)

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.