Friday, February 17, 2017

Bulan Cinta Ibu Inggit Garnasih



Alih-alih merayakan Valenitine Day yang dilarang di negeri ini, apa salahnya kalau kita merayakan Bulan Cinta Ibu Inggit Garnasih saja? 

Sejarah tidak akan melupakan ibu Inggit Garnasih yang dilahirkan 17 Februari 1888. Sosok wanita yang satu ini lekat dengan Rumah sejarah Inggit Garnasih yang terletak di Jalan Inggit Garnasih no 8 Ciateul,  yang ditempati Inggit Garnasih hingga akhir hayatnya 13 April 1984 di kawasan Astana Anyar, Bu Inggit Garnasih menjual bedak dan jamu serta kutang buatannya, dan di jalan Lio genteng barang jualan Ibu Inggit Garnasih banyak dikenal.

Inggit Garnasih (lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 17 Februari 1888 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 13 April 1984 pada umur 96 tahun adalah istri kedua Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Sekalipun bercerai tahun 1942, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal. Kisah cinta Inggit-Soekarno ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang. (Wikipedia)

Kembali dari pengasingan di Bengkulu pada 29 Januari 1942, Inggit Garnasih minta dicerai karena tak ingin dipoligami. Dengan diantar KH Masmansyur, Soekarno mengantar Inggit Garnasih ke Bandung dan memilih rumah di Jalan Ciateul No 8 sebagai tempat tinggalnya. 

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Inggit membuat bedak dingin Saripohatji dan jamu menggunakan batu pipisan, rokok tembakau hingga kutang. 

Perjuangan ibu bangsa Inggit Garnasih begitu besar bagi lahirnya negeri ini saat mendampingi sang proklamator selama 20 tahun 1923-1943, mulai dari membiayai sekolah Soekarno hingga tamat Technische Hoogeschool te Bandoeng 1926 (sekarang ITB),  mendirikan perserikatan Nasional Indonesia 4 Juli 1947 dan menjadi partai Mei 1928. Menjalani hukuman di penjara Bancey dan kemudian dipindahkan ke Sukamiskin 1929-1931. Turut dibuang ke Ende Flores (1934) dan dipindahkan ke Bengkulu (1938) hingga akhirnya harus bercerai karena sebagai wanita Sunda merasa pantang untuk dimadu (1942).

Nama ibu Inggit Garnasih tak seharum Ibu Fatmawati ataupun Ibu Hartini, Ibu Inggit bukan wanita yang menjahit bendera pusaka Merah Putih saat Bung Karno membacakan teks proklamasi tapi Ibu Inggit adalah nafas semangat Bung Karno di masa-masa perjuangan yang penuh luka. Ibu Inggit lah penguat jiwa sekaligus tempat Bung Karno bersandar di kala ia tak mampu berdiri karena sulitnya keadaan waktu itu. (disunting dari monolog Inggit Ibu Bangsa oleh Dahlia)

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.