Monday, February 6, 2017

Toleransi Dibentuk Oleh Pers?

Mengapa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran?



Kita sekian lama hidup terikat, kemudian bebas secara tiba-tiba. Euforia terjadi karena keran kebebasan itu dibuka mendadak. 

Siapa yang salah bila rakyat Idonesia tak mengenal perbedaan-perbedaan sehingga berbeda sedikit saja langsung ngamuk? Padahal perbedaan itu syarat mutlak berdemokrasi. 

Di era Orde Baru, mereka yang punya keinginan-keinginan tertentu tidak muncul di permukaan, sekarang muncul dengan seenaknya. Mau ngomong apa saja dihalalkan demokrasi, sedangkan masyarakat belum terbiasa berbeda pendapat.

Sekarang banyak orang yang mengatasnamakan demokrasi untuk kepentingan melampiaskan apa yang diinginkan. Mereka bisa berdalih, “ini demokrasi, enggak bisa dilarang-larang.”

Dengan dalih yang sama, kelompok Islam radikal berkembang. Orang-orang moderat yang seharusnya tampil memilih diam saja. Media elektronikpun yang seharusnya menampilkan tokoh berideologi moderat, karena  memikirkan uang dan rating banyak akhirnya hanya menampilkan “aktor ustad”.

Sekarang banyak ustad dan ulama bikinan, yang tidak pernah terlihat rekam jejaknya, dia belajar agama dari kiai mana, dimana mondok-nya. Masyarakat hanya melihat tampilan dan citranya.

Banyak ustad semacam itu yang diberi panggung, dan kata-katanya berhasil mewarnai pikiran orang banyak. Keadaan semacam ini seperti menempatkan Pers era sekarang seperti penyair di zaman jahiliyah, sebagai pembentuk opini.

Mau dibawa ke mana bangsa ini oleh Pers? Ahmad Shiddiq, Rais ‘Am Pengurus Besar NU 1984-1991, menyatakan bahwa wartawan termasuk zuama (pemimpin), karena mereka penentu opini.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.