PROSA - FIKSI MINI

Boneka Terakhir
Untuk Adikku tersayang ...................

Anak lelaki kecil itu mungkin tidak lebih dari 5 atau 6 tahun umurnya.

Kasir mengatakan, "Maaf, uangmu tidak cukup untuk membeli boneka ini."

Kemudian anak kecil itu mendekati seorang perempuan tua di dekatnya:''Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?''

Wanita tua itu menjawab:''Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang''.

Lalu ia memintanya untuk tinggal di sana hanya 5 menit sementara ia berkeliling ke berputar-putar. Dia meninggalkannya dengan cepat.

Si anak kecil itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya, aku berjalan ke arahnya dan aku bertanya padanya siapa yang akan dia beri boneka itu.

"Ini boneka yang paling disukai adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal nanti. Ia yakin Santa Claus akan memberi boneka ini untuknya. "

Aku mengatakan kepadanya bahwa mungkin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya pada saatnya, dan tidak perlu khawatir.

Tapi dia menjawab dengan sedih. 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dia sekarang. Aku harus memberikan boneka ini kepada ibu saya sehingga dia bisa memberikannya kepada adikku saat dia pergi ke sana. "

Matanya begitu sedih ketika mengatakan ini. "Adik saya sudah di rumah Tuhan. Ayah bilang Ibu juga akan segera menemui Allah di sana, jadi saya berpikir kalau dia bisa membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.''

Jantungku hampir berhenti.

Anak kecil itu menatapku dan berkata: "Saya mengatakan kepada ayah untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu, sanpai aku kembali dari mal. "

Lalu ia menunjukkan sebuah foto yang sangat bagus, di foto itu dia tertawa.

Dia kemudian mengatakan, "Aku ingin ibu membawa fotoku dengan begitu dia tidak akan melupakan aku. Aku cinta ibu dan kuharap ia tidak meninggalkan aku, tapi ayah berkata ibu harus pergi bersama adikku."

Kemudian dia menatap boneka dengan mata sedih, suasana sangat hening.

Aku cepat-cepat mengambil dompetku dan berkata kepada anak itu. "Bagaimana kalau kita hitung lagi, kalau-kalau uangmu cukup untuk membeli boneka ini?''

"OK" katanya, "Aku harap aku punya cukup .." 

Aku menambahkan beberapa uangku tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitung. Uangnya cukup untuk boneka itu dan bahkan masih ada sisa untuk disimpan.

Anak kecil itu berkata: "Terima kasih Tuhan karena memberiku cukup uang!"

Kemudian ia memandangku dan menambahkan, "Sebelum tidur semalam saya meminta agar Tuhan mencukupkan uang untuk membeli boneka ini, sehingga ibu yang bisa memberikannya kepada adikku. Dia mendengarku!''

"Saya juga ingin memiliki uang yang cukup untuk membeli mawar putih untuk ibuku, tapi saya tidak berani meminta Tuhan terlalu banyak. Tapi Dia memberiku uang yang cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.''

"Ibu saya suka mawar putih. ", katanya lagi.

Beberapa menit kemudian, wanita tua tadi kembali dan aku segera berlalu dengan keranjangku. Aku menyelesaikan belanja dengan perasaan asing. Anak itu sungguh di luar jangkauan pikiranku.

Lalu aku teringat sebuah makalah artikel berita lokal dua hari lalu, yang menyebutkan seorang pria mabuk di sebuah truk yang menabrak mobil yang dikendarai oleh seorang wanita muda dan seorang gadis kecil.

Gadis kecil meninggal seketika, meninggalkan ibunya dalam keadaan kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut steker pada mesin pendukung hidup, karena wanita muda itu tidak akan bisa sadar dari koma.

Apakah mereka keluarga dari anak kecil tadi?

Dua hari berikutnya setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca lagi di koran berita bahwa wanita muda itu meninggal dunia.

Aku tidak bisa menahan diri saat aku membeli seikat mawar putih dan bergegas ke rumah duka dimana tubuh wanita muda itu disemayamkan agar siapapun bisa melihatnya untuk terakhir kali sebelum pemakaman.

Dia ada di sana, dalam peti matinya, memegang mawar putih yang indah di tangannya dengan foto anak kecil dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya.

Aku meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata, terasa bahwa hidupku telah berubah untuk selamanya. Cinta yang diberikan oleh anak yang masih  kecil itu kepada ibu dan adiknya, sampai hari ini, sulit terbayangkan. Betapa hanya dalam sepersekian detik, seorang pengemudi mabuk telah merenggut semua itu darinya.


Sujata Mitra untuk Komunitas Sastra Sukabumi




Aku terpaksa Menikahinya....

KISAH INSPIRATIF UNTUK PARA ISTRI DAN SUAMI


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya.

Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.


Dipersembahkan untuk Komunitas Sastra Sukabumi oleh Teti Mardiana


REGINA BRETT 

TETAP ENERGIK DI USIA 90 TAHUN, 

INI RAHASIANYA



7%
DITULIS OLEH WANITA BERUSIA 90 TAHUN

Kami menyarankan anda membaca hal-hal berikut ini sedikitnya sekali dalam seminggu. Panstikan anda membacanya hingga akhir bacaan.

Ditulis oleh Regina Brett, wanita berusia 90 tahun, dari The Plain Dealer, Cleveland, Ohio.

Untuk merayakan nikmatnya menjadi manula, Saya menulis 45 pelajaran hidup yang mempengaruhiku. Hal tersebut merupakan topik yang sering pembaca minta dari saya sebagai kolumnis. 

Usiaku akan memasuki tahun 90 pada bulan Agustus, dan ini kolom yang pernah saya tulis:

1.      Hidup itu tidak pernah adil, tapi cukup baik
2.      Saat dalam lilitan hutang , cobalah untuk berhemat
3.      Hidup itu terlalu singkat bila hanya dihamburkan untuk membenci seseorang
4.      Pekerjaanmu tidak akan mempedulikanmu saat dirimu sakit, teman-temanmu dan keluargamu yang akan peduli padamu, jadi tetaplah menjaga hubungan silahturahmi dengan mereka.
5.      Bayar kartu kreditmu setiap bulan.
6.      Anda tidak harus menang dalam setiap perdebatan, suka atau tidak suka.
7.      Menangislah dengan ditemani seseorang, hal itu akan membuat anda merasa lega daripada harus menangis seorang diri.
8.      Sangat dumaklumi bila Anda protes kepada Tuhan, dan Tuhan akan mendengar anda.
9.      Sisihkan dari pendapatanmu untuk membayar diri sendiri.
10.    Ketika segala sesuatu menjadi abu-abu, tetaplah pada pendirianmu.
11.  Berdamailah dengan masa lalu anda dan itu tidak akan mempengaruhi saat ini.
12.  Sangat bijaksana untuk membiarkan anak-anak mengatahui anda menangis.
13.  Jangan membuat perbandingan hidupmu dengan orang lain. Jangan memikirkan bagaimana mereka menempuh hidup sampai seperti itu.
14.  Ketika sebuah hubungan menjadi amat rahasia, sebaiknya anda tidak ikut terlibat.
15.  Segala sesutau bisa berubah dalam sekejap mata. Namun jangan khawatir, Tuhan tidak pernah mengerjapkan mataNya.
16.  Tariklah napas dala-dalam, hal itu membantu menenangkan pikiran anda.
17.  Abaikan semua hal yang tidak berguna, tidak nyaman atau tidak menentramkan.
18.  Apapun masalah yang dihadapi tidak akan membunuhmu, justru akan membuat anda lebih kuat.
19.  Tak ada kata terlambat untuk mempunyai keturunan yang membahagiakan. Semua tergantung anda dan tak ada seorangpun yang menentukan.
20.  Saat  anda diminta peduli  kepada orang yang anda cintai dalam hidup ini, jangan pernah berkata tidak.
21.  Nyalakan sebatang lilin, kenakan gaun yang pantas, pakai semua perhiasan. Jangan menyimpannya untuk dikenakan pada perayaan khusus. Hari ini, hari istimewa.
22.  Jangan serba ketakutan sehingga terlalu banyak persiapan, biarkan mengalir segalanya mengalir seperti air.
23.  Tampil beda dari sekarang, jangan menunggu tua dulu untuk memakai pakaian warna unggu.
24.  Organ sex yang paling penting adalah otak.
25.  Tidak ada yang bisa membuatmu bahagia selain dirimu sendiri.
26.  Bingkailah segala hal dan beri label “Akankah ini terwujud dalam lima tahun kedepan?”
27.  Tetaplah memilih untuk bertahan hidup.
28.  Berilah ampunan kepada siapapun untuk semua hal.
29.  Apapun yang dipikirkan orang lain tentang dirimu bukan urusanmu.
30.  Waktu bisa memperbaiki hampir semuanya, jadi berikan waktu untuk waktu.
31.  Betapapun baik atau buruk segala sesuatu pada akhirnya akan berubah.
32.  Jangan terlalu membuat diri begitu serius, tak seorangpun yang berbuat seperti itu pada dirinya.
33.  Percayai akan adanya keajaiban.
34.  Tuhan menyayangimu sebagai Tuhanmu, bukan karena apa yang sudah Anda perbuat ataupun yang tidak anda perbuat.
35.  Jangan mengaudit hidup ini, tunjukan dan berbuatlah.
36.  Menjadi tua itu pilihan buruk, pilihan lain mati selagi muda.
37.  Anak-anak anda hanya sekedar keturunan anda.
38.  Diatas segala-galanya, pilhan terbaik adalah semua yang anda cintai.
39.  Pergilah ke luar rumah setiap hari. Keajaiban ada dimana-mana.
40.  Bila kita menyusahkan orang lain dan merasa puas karenanya, tunggu balasannya.
41.  Berkhayal sedah memiliki segalanya hanya buang-buang waktu.
42.  Yang paling baik akan segera terwujud.
43.  Tidak peduli bagaimanapun perasaan anda saat ini, bangkit, dandan dan pergilah.
44.  Semangati dirimu
45.  Hidup tidak terikat masa lalu, tapi sebuah anugrah  

    Diperkirakan sebanyak 93% orang tidak mau menyebarkan informasi ini. Bila anda termasuk salah seorang dari yang 7% itu, maka sebarkanlah dengan judul 7%.
    Aku termasuk salah satu dari yang 7% itu, termasuk teman-teman dan anggota keluarga terpilih.





    PERCAKAPAN DENGAN TUHAN

    Oleh: RISA


    "Selamat pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit, aku ingin bicara."

    "Ooo..waktu- KU adalah KEKEKALAN, tidak ada masalah tentang waktu. Apa pertanyaanmu? "

    "Terimakasih. .. Apa yg paling mengherankan bagi-MU tentang kami manusia?"

    "Hahaha.. kalian itu memang aneh. Pertama, suka mencemaskan masa depan, sampai lupa hari ini.

    Kedua, kalian hidup seolah olah tidak bakal mati.

    Ketiga, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin
    dewasa. Namun setelah dewasa rindu lagi jadi anak-anak: suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal-soal sepele.

    Lalu keempat, kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang, tetapi membayarnya kembali mengeluarkan begitu banyak uang untuk mengembalikan kesehatan itu. Hal-hal begitulah yang membuat hidup kalian susah."

    "Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup bahagia?"

    "Sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan. Inilah satu lagi keanehan kalian: suka melupakan nasihat-KU. Baiklah KU-ulangi lagi ya, beberapa yang terpenting:

    Pertama, kalian harus sadar bahwa mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rejeki. jadi jangan mengejar rejeki, tetapi biarlah rejeki yang mengejar kalian.

    Kedua, ingat "siapa" yang kalian miliki itu lebih berharga dari pada "apa" yang kalian punyai. Perbanyaklah teman, kurangi musuh.

    Ketiga, jangan bodoh dengan cemburu dan membandingkan yang dimiliki orang lain. Melainkan bersyukurlah dengan apa yg sudah kalian terima. Khususnya, kenalilah talenta dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia unggul. Otomatis rejeki yang akan mengejar kalian.

    Keempat, ingat orang yg disebut kaya bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan yang terbanyak, tetapi adalah dia yg paling "sedikit" memerlukan, sehingga masih sanggup memberi kepada sesamanya.

    Ok? Ingat janji ini: AKU tidak akan meninggalkanmu.

    "Terimakasih Tuhan"






    TV SERBA ADA
    Oleh: Heru Supanji
    "Pak kenapa di TV sudah ada yang lebaran?", tanya anakku yang menyesal ikut makan sahur walau sama ketupat dan opor ayam.
     "Jangankan lebaran De... harga-harga sembako murah juga ada kalau di TV." jawab istriku tanpa maksud bergurau.
     Aku tersenyum kecut, harga-harga itu sebenarnya terjangkau kalau aku memberi uang belanja cukup.
    Puri Sunyi, 30 Agustus 2011


    MAAF LEBARAN DITUNDA SAMPAI LUSA
    Oleh: Heru Supanji
    Takbir yang berkumandang syahdu dari surau terputus ajakan imam masjid untuk melaksanakan sholat tarawih. Santap sahur menjadi istimewa  karena ada ketupat dan opor ayam. Ibu-ibu panik menyelamatkan masakan agar tidak basi, anak-anak melipat baju lebaran dengan kecewa, bapa-bapa cemas menghitung biaya hidup tiga kali lipat yang diperpanjang sehari lagi.
    Rakyat merasa dipermainkan ketika tersiar kabar resmi, “Maaf lebaran ditunda sampai lusa!”
    Puri Sunyi, 30 Agustus 2011



    ADA APA DENGAN MATAMU
    Oleh: Heru Supanji
    Ketika wakil rakyat di Gedung DPR tidak dipercaya rakyat, digelar  rapat raksasa yang dipimpin langsung oleh Presiden. Rapat terbuka itu disiarkan langsung ke seluruh penjuru dunia, dihadiri seluruh duta besar negara-negara sahabat dan seluruh elit politik tanah air.
    Seseorang 1       : “Kenapa jumlah koruptor secara signifikan naik setiap tahun berbanding lurus dengan kenaikan jumlah rakyat miskin di negeri ini?”
    Seseorang 2       : “Kenapa sarana tranfortasi umum nampak tidak manusiawi menjelang dan sesudah lebaran?”
    Seseorang 3 sampai sekian ratus ribu tercatat di notulen.
    Presiden                :”Tangan saya ada hanya dua, yang kanan untuk mengerjakan semua kebaikan dan kemuliaanya dan yang kiri untuk mengerjakan semua hal-hal buruk dengan semua kenistannya. Pertanyaan balik dari saya, ‘Ada apa dengan matamu’?”

    Puri Sunyi, 27 Agustus 2011


    PEDAGANG
    Oleh: Heru Supanji

    "Saya menolak di bawa ke kantor, saya pedagang dan bukan PSK!", teriak seorang perempuan pada petugas yang akan membawanya ke atas truk Satpol PP.


    "Ini dagangan saya, lihat pak!", katanya sambil mengeluarkan beberapa pak kondom, lalu "saya juga menyediakan layanan purna jualnya gratis!"



    Puri Sunyi, 24 Agustus 2011





    BIS SEPERTI APA YANG KAU TUNGGU?
    by Anoname

    Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, 'Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh !

    Aku tunggu bis berikutnya aja deh.'

    Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, 'Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..'

    Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

    Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, 'Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku'. Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

    Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

    Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

    Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

    Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

    Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

    Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

    Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

    Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu ??



    Puri Sunyi, 23 Agustus 2011

    Photo by Andreva_Moogle

    No comments:

    Post a Comment

    Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.