PUISI





Menjemput Takdir

Takdir datang sebagai sesal
Datang tak terduga
Terlambat untuk disadari

Setelah jauh melangkah
Mungkin ikhlas yang terpaksa juga
Yang sulit dipahami
Hingga kini

Puri Sunyi, 24 November 2012
Heru Supanji















MELARAT

Aku tidak punya apa-apa lagi
Semua telah kau ambil
Semua tawa dan sukacita
Semua gundah dan gulana
Semua keluh dan kesah
Semua tangis dan air mata
Semua kata dan bahasa
Semua syair dan lagu
Semua do'a dan harapan
Jadi apa yang harus kutakutkan?
Tapi ada satu yang kau sisakan
Semakin erat melekat
Menyatu kulit menyatu tulang dan daging
Rasa melarat yang tak berkesudahan

Puri Sunyi, 26 Februari 2012
Heru Supanji




SANG WAKTU

Dari semua yang tersisa cuma sebongkah kenangan
Terpahat dengan indah di sanubari
Disaksikan rambut putih dan keriput kulit
Kita di sini lagi
Waktu telah merubah semuanya
Memberi semua yang diinginkan
Tapi juga merampas semua yang dia mau

Puri Sunyi, 19 Februari 2012
Heru Supanji
(Kenangan Reuni Kecil dan Saat Harus Berpisah di Soekarno Hatta setahun lalu)




L E L A H

Ayo, selangkah lagi
Ayo, satu helaan napas lagi
Ayo, satu degub jantung lagi

Tapi aku tak bisa lagi
Aku lelah dan menyerah lagi

Puri Sunyi, 17 Februari 2012
Heru Supanji

Sajak Senja
dari karya Abi Cepian Ibn Al-khairi

Rinai hujan di ufuk senja
Membawa kabar dari langit
Jangan kau tepis
Biar kuyup tubuhmu
Oleh cinta
Meski dingin menggigilkan hati
Jadikan larik puisi ini
Penanda asmara kita
Walau langit tersaput mendung

Puri Sunyi, 3 Februari 2012
Herupanji
Terjemahan bebas dipersembahkan untuk yang berulang tahun pernikahan: Nila Sapti Supanji


Ingin Denganmu Kasih


Sabtu....
Hari pertama kali aku lengkingkan tangisku .
dan kini Sabtu keberapa
aku sudah tak perduli lagi .
Terus...selalu tak bisa hentikan langkahku .
Aku ingin sepertimu , Kasih...
Menyanyikan lagu hari dirumah Ibu Pertiwi .

Harusnya aku ada disini .
Disisimu bersama merenda hari .
Menemanimu disetiap nyanyian waktu .
Dan...melagukan indahnya nada - nada Cinta .

Maafkan Kasih...
Sabtu inipun aku belum bisa denganmu .
Merajut impian tentang rumah biru kita .
Mungkin di Sabtu esok atau lainnya .
Aku akan datang padamu..
Dengan segenap cinta yang kau amanatkan.
Cinta itu masih utuh padaku .

Tersenyumlah di Sabtuku , Kasih...
Ku cumbu senyummu dalam peluhku .
Biar kunikmati tragisnya senyum sunggingmu .
Engkaulah Cinta , Rindu dihatiku .
Ingin denganmu selalu lewati Waktu .
Sampai dipenghujung Sabtuku .

ditulis oleh : Nila Sapti Supanji . ( BV23A )
10 September 2011

KAUM PEMBOHONG


Aku memilihmu
Cuma untuk memberi kesempatan kau ingkari janji
Ternyata aku salah

Kau bukan kaum pembohong
Terbukti kau penuhi janji
Bualanmu semasa kampanye terbukti

Kau bohong besar, kataku
Saat kau katakan mampu membodohi seluruh rakyat
Lalu membujuk untuk menjadikanmu wakil mereka

Kini kau beri bukti
Kau berjuang untuk diri sendiri
Aku gigit jari

Kalah berjudi

Puri Sunyi, 19 Januari 2012
Heru Supanji

Sa'atMU




Bulan dan Matahari .
Beriringan Sempurnakan Waktu .
Sa'at Tahun sudah dipenghujung Senja .
Sa'at Hariku dalam simbahan keringat .
Sa'at Malamku menjelma menjadi sebuah Nyanyian .
Akulah Sepatah Kata....Nila...dan akulah PecintaMU .
Tak sedetikpun kuberpaling dariMU .
Maka...Kuharap Berkah CintaMU selalu ada .
Sa'at kulewati lagi jalan didepanku .
Dalam WaktuMU di Tahun 2012 .

28 Desember 2011 ( BV23A )
Nila Sapti Supanji

KASIHKU JAUH DI SANA













Di balik gunung itu
Di pasir pantai dan buih ombak memutih
Kasihku menunggu
Sambil melepas do'a dalam tatapnya
Menghitung hari dalam dzikirnya
Menyisih tasbih dalam tangisnya
Menyeka airmata dengan sajadah

Ke balik bukit itu
Aku pulang

Di sana kasihku menunggu

Puri Sunyi, 21 Desember 2011
Heru Supanji — dengan Nila Sapti Supanji.

KOTEKA
oleh: Heru Supanji



Semakin erat genggaman Pertiwi
Semakin gundah rasa Papua
Setiap hasrat diartikan pemberontakan
Tak tahu harus memaki atau mengerang nikmat

Puri Sunyi, 9 Desember 2011

SAMPAI JUMPA, BU




Oleh: Heru Supanji

Sudahlah dik, ibu sudah pergi
Jangan basahi pusara ibu dengan air mata
Tidak cukup air mata duka kita untuk membasuh nisan yang membisu
Masih banyak hari esok yang bisa alirkan air mata darah
Bukankah ibu pernah berwasiat bahwa kita akan bertemu di pintu surga

Yakinlah dik, ibu sudah pergi
Air dengan wangi seribu bunga tiada lagi guna
Surga di bawah telapak kakinya sudah dibawa berlalu
Kita tidak akan pernah bisa membasuhnya seperti biasa
Ibu bermunajat bahwa surga itu untuk kita di sana

Percayalah dik, ibu sudah pergi
Cuma menangis hanya membuatnya gundah
Kita akan lanjutkan semangat hidup ibu
Kita akan tertawakan congkaknya dunia
Karena kita punya surga di sana

Puri Sunyi, 16 Juli 2011
Mars 91 - Puncak


Nila Sapti Supanji
Tentang Cinta Terbuang



Lengkaplah sudah sepi ini .
Mengurung sendiriku .
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi -api .
Menyusuri jalanan lengang .
Bersimbah angan tanpa tujuan .

Dalam derap gerimis yang pongah menghujam .
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi .
Membawa sebaris kata Bahagia .
Yang menenggelamkan nurani .
Diatas pengharapan tak berkesudahan .

Tentang rindu kusam...
Tentang Cinta Terbuang .
Mengutip satu namamu diantara....
Keluh kesah...
Gundah gelisah...
Air mata dan Lara .

Masihkah ada sedikit senyum darimu...?
Dibatas penantianku yang masih terbata .
Jika masih ada ruang dihatimu untukku , sedikit saja .
Tolong , bicaralah.....
Pada tanah membentang .
Pada pohon-pohon yang rindang .
Dan angin yang mengusik keangkuhan .
Setidaknya biar ada tanda .
Yang bisa kubaca dan kureka .
Karena aku selalu berjalan menujumu .

( Lady of BV23A ) Moment Of December . — di BV23A.

ANAK
~Heru Supanji



Dia adalah matahari di jantungku
Tangannya yang kini kecil
Kelak akan membelaiku di pangkuannya
Setiap hari kujaga matanya tetap berbinar bahagia
Kuenyahkan mendung dari hati dan pikirannya
Agar tak ada setetespun airmata di pelupuk mata
Dan kuharamkan sampai jatuh di pipinya

Puri Sunyi, 2 Desember 2011
dari hati yang terluka

RINDU



Cuma aku yang tahu rindu ini akan kubawa ke mana
Atau kubiarkan terkatung dalam gelisah
Tertambat di pantai sunyi
Bersama biduk-biduk lapuk
Menunggu waktu yang kian tak tentu
Karena semenit tidak lagi enampuluh detik
Rindu mengaburkan batas waktu
Jam dan almanak tertutup debu

Puri Sunyi, 18 Nopember 2011
Heru Supanji

Ketelanjangan Diriku

Malam dan Pagi tak Terbatas...hanya Absurd .
Dalam pandang ketelanjangan Waktu .
Kemana dan Dimana...?
Tak lagi berperan .
Hanya Ketelanjangan Arah yang Membuta .
Aku , Kamu...
Telanjang dalam tak Terbatas .
Dalam ketelanjangan Raga .
Lebur Melekat Dalam Luruh .
Dalam hitungan Waktu .
Aku Kalah....
Kau tak disini .
Dan...
Darahku membeku dalam Tulang .



( kutemukan lagi Kau disini....tapi tidak sedang disini , Kuhadiahkan Buat Suamiku Tercinta Heru Supanji Dalam Ulang Tahunnya ) .
Oleh : Nila Sapti Supanji ( Lady Of Puri Biru )
15 Oktober 2011 .


Pengakuan
Oleh: Heru Supanji



Tergugu dalam sujud berdebu
Terpisah jarak dan waktu
Lidahpun kelu
Mencoba tetap teguh
Kesetiaan perlahan tergerus

Cinta hanyut terbawa arus
Pusaran bimbang dupa mengalun
Imanku tergadai ya Tuhanku
Karena tak bisa kureka rupaMU
Aku tersesat di jalan tanpa rambu

Puri Sunyi, 11 Oktober 2011
Photo by Gungde Uma

Istikhoroh



Oleh: Heru Supanji

Sampai kapan mampu mencintai
Diam-diam di sepertiga malam
Membisikan rayuan dendang syair berkarat
Hitungan jari keriput bergetar
Tak bisa menyebut namamu lagi
Di ujung sedu sedan tak tahu lagi mauku
Sesungguhnya, hidupku juga matiku hanya untukMu

Puri Sunyi, 28 September 2011

DILEMA SINGGASANA


Oleh: Heru Supanji

Baginda raja sedang gundah gulana
Dinding, lantai dan pilar istana bermuram durja
Singgasana baginda digerogoti rayap-rayap bertaring baja
Baginda mendekap erat mahkota di dada
Matanya nanar menatap rayap dari kandang unta yang beringas
Mulutnya berdarah mengunyah lahap penggalan kepala
Baginda sempat tertawa hambar
Rayap dari rumah Paman Sam berdendang jenaka
Senyum baginda raja yang terpaksa menyiratkan kecewa
Saat semua tanya tentang putra yang minggat ke Singapura
Tidak bisa dijawab dengan seribu kata
Belum lagi reda pusing kepala menyoal Sipadan, Ligitan dan Ambalat
Rayap jiran menjerat dalam rangkulan erat sahabat tapi berkhianat
Baginda raja sebentar lagi turun tahta
Membawa luka dihujat gagap media
Seluruh rakyatnya tak peduli dan sibuk berebut bola
Puri Sunyi, 13 Juli 2011


Terserah Kaulah
Oleh: Nila Sapti Supanji



Aku sudah tak peduli
dengan apa maumu
dengan semua gejolakmu
jurang ini terlalu lebar
untukku bisa loncat kearahmu

Teruslah kepakkan napsumu
Angakaramu yang akan meranggaskan sayap egomu
Terserah Kaulah...!
Bukankah Negeri ini Kau yang bertuan

Terserah Kaulah...!
Mau kau buat apa aku dan mereka
yang sudah mau percaya padamu dulu

Terserah Kaulah...!
Bila Akhirnya Tuhan marah
dan membabat habis Negerimu

Terserah Kaulah...!
Disini , aku dan mereka masih seperti yang kemarin dulu
Menjadi anak Negeri yang setia
dalam sepak terjangmu
Bermainlah sepuasmu disini ...
Di Negeri yang sedang dalam Genggamanmu
Aku dan Mereka tak Peduli lagi

Semua Terserah Kaulah...!!!

BV23A, 9 September 2911

Dendam Kesumat


Oleh: Heru Supanji



Sia-sia kucari mentari,
pagiku hilang dalam amuk masa reformasi
yang cuma menjanjikan mimpi tak bertepi.
Andai ku besar nanti,
kukencingi wajahmu sambil berlari!

Ini dendamku, camkan penguasa!!!

Puri Sunyi, 8 September 2011 Photo Fuaed Marshal

Kepada Lelakiku di Bilik Masakku Ketika Ku Pergi

Oleh: Heru Supanji
Jatuh air mata di pipi
Saat kucium aroma bawang diujung jemari
Kemana lelaki garang yang pernah kukenali
Tiba-tiba aroma feminin menyelimuti
Terbayang senyummu ikhlas dengan celemek tersampir di diri
Tangan kanan sepatula buku menu tangan kiri
Lembut suaramu, makan dinda... kusuapi...
Terdengar ikhlas dan bahagia tak terperi
Jatuh lagi air mata di pipi



Puri Sunyi, 7 September 2011

SELAMAT PAGI CINTA

Oleh: Nila Sapti Supanji

Pagi bersama mentari yang genit menyapaku ,
kucoba tak pedulikannya ,
kupekakkan kupingku dari segala suaranya ,
kutarik lagi dengan sempurna selimut hijauku.

Mentari...cobalah biar kumanjakan Ragaku ,
yang keletihan terbasahi asmara jiwa hingga lunglai tulangku ,
akh..Mentari tak pernah mau mengalah ,
dibasahinya ragaku dengan peluh gerah mengajakku menarik diri dari peraduan,
kulihat senyumnya yang hangat menebarkan aroma pagi yang bergairah ,
kusambut senyumnya yang genit dengan kerlinganku .

Selamat Pagi Cinta...suara baritonnya menyapaku ,
kugeliatkan ragaku dalam kasihnya.
dan...Selamat Pagi sayang...
manja kusambut salam direngkuhnya .
hanya itu dan selalu begitu pagiku bersamanya .




BV23, 6 September 2011


Resah Dalam Penantian
oleh Nila Sapti Supanji

Kerendahan hati ini bagai benalu,
saat kudamba tautan hati kita,
selalu ada tuk bersama.....

Namun, tak kau hiraukan diriku...........
Ketinggian hati ini bagai bumerang,
saat tak kau katakan sejujurnya padaku
tentang betapa Arogannya aku dimatamu,
walau padaku kau katakan suka.....

Antara hati kita mulai tak bicara,
gaung yang mendayu bagai bunyi sengau,
suara hati kita mulai terdengar parau,
sering kini lebih baik diam tak bersuara,
ketakutan hatiku mulai meresahkan hatimu,
kaupun mulai membenci sikapku,
keraguanku kini jadi kebimbanganmu,
perlahan kau mulai menyendiri...

Pedih hati ini mungkin tak sepedih hatinya
yang lebih dulu mengenalmu sejak bertahun lalu,
Aku yang telah terbiasa disakiti mulai kebal,
Kau biarkan ruang hampa ini terlalu lama,
tangan kananmu menggenggam tambang,
tangan kirimu menggapai beruang terbang,
dimana sesungguhnya hatimu kau simpan....
kulihat lagi binar matamu tak pernah jemu,
kudengar lagi kalimatmu tak pernah ragu,
adakah keresahanku kau rasakan juga...

adakah penantianku sia-sia....?



pada 13 Desember 2009 jam 18:33

Mati Sebelum Mati

Oleh : Heru Supanji

Aku tak ’kan berkedip
Walau kau hunjam jantungku dengan seribu belati
Karena aku tak bisa lagi mati
Kau terlambat sepersejuta detik
Aku sudah mati sebelum mati



Puri Sunyi, 09;23 – 5 Juli 2011


HATI YANG BEKU










Oleh: Heru Supanji

Hatiku membatu sedingin pualam purba
Tak bergeming setegar karang dihantam gelombang
Aku kehilangan rasa
Tubuh dan jiwa ini meradang dirasuk angkara
Bagai serigala lapar memakan dirinya sendiri

Puri Sunyi, 26 Juli 2011


1 comment:

  1. Saya mendukung anda Kang Heru. Blognya bagus dan saya tertarik.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.